PEREMPUAN, AGAMA DAN TRANFORMASI
SOSIAL DALAM AGAMA KRISTEN
RELASI GENDER DALAM AGAMA-AGAMA
Dosen Pebimbing :Hj.
Siti Nadroh M.Ag.
Makalah ini disusun sebagai Tugas Mata Kuliah Relasi Gender dalam
Agama-Agama Semester 5
Disusun Oleh:
Renaldo Caniago 11140321000028
Firda devy Rahmawati 11140321000039
Zikri Sultoni 11140321000012
JURUSAN
PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS
USHULUDIN
UIN
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2016
Salah satu masalah yang
sampai saat ini menjadi perhatian para teolog di dunia Barat maupun dunia Timur
yaitu masalah kesetaraan perempuan dan laki-laki. Pada kenyataannya telah
terjadi ketidakadilan antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan.
Perempuan dibedakan dari laki-laki bukan karena jenis kelamin yang berbeda
tetapi karena dia dianggap lebih rendah statusnya dibandingkan laki-laki.
Apakah benar posisi laki-laki lebih tinggi dari perempuan? Siapa yang
menciptakan dominasi dan diskriminasi antara keduanya? Bagaimanakah
Alkitab bercerita tentang kedudukan laki-laki dan perempuan?
Sampai sekarang ini
banyak sekali kajian tentang gender mulai dari perspektif social hingga agama.
Hal yang menarik pada makalah ini adalah bagaimana gender dikaji dalam suadut
pandang agama terutama agama Kristen. Kajian akan sangat menarik sebab tidak hanya
perspektif para panganut namun juga kitab suci yaitu bible. Perlu diketahui
bahwa dalam agama Kristen kajian seputar gender merupakan kajian yang sangat
hangat dan muncul sekitar abad ke-19 seperti yang kemukan oleh Rosemary R.
ruether dalam tulisannya Christianity and women in the modern world.
Dalam kehidupan ini,
selain menggambarkan banyak kelemahan perempuan terutama dalam tradisi Kristen, banyak juga fenomena-fenomena yanng menggambarkan banyak kekerasan
terhadap perempuan.
Kekerasan terhadap kaum
perempuan dan makna keadilan bagi mereka terkait erat dengan pemahaman Gereja
Katolik tentang martabat manusia (termasuk hak asasi manusia), keadilan,
keluarga, kebutuhan, kesucian, penderitaan, salib, dan kebangkitan.
Pemahaman-pemahaman tersebut terbentuk melalui beberapa sumber, khususnya kitab
suci dan tradisi (termasuk ajaran, teologi, penghayatan iman, dsb.).[1]
Berawal dari Teologi Pembebasan, Teologi Pembebasan adalah kata
majemuk dari teologi dan pembebasan. Secara etimologis, teologi berasal dari theos
yang berarti Tuhan dan logos yang berarti ilmu. Teologi adalah ilmu yang
mempelajari tentang Tuhan dan hubungannya dengan manusia dan alam semesta.
Sedangkan kata pembebasan merupakan istilah yang muncul sebagai reaksi atas
istilah pembangunan (development) yang kemudian menjadi ideologi
pengembangan ekonomi yang cenderung liberal dan kapitalistik dan umum digunakan
di negara dunia ketiga sejak tahun 60-an. Teologi Pembebasan adalah salah satu
dari elemen paradigm misi gereja, baik dalam pemikiran maupun praktek.
Teologi
Pembebasan juga dapat diartikan sebagai salah satu jenis teologi yang
menghasilkan teologi kontekstual dari suatu perspektif penderitaan.Titik
berangkat teologi ini adalah realitas-realitas sosial yang menegaskan karena
tindakan-tindakan ketidakadilan, secara khusus ketidakadilan di dalam
sistem-sistem ekonomi, sosial, dan politik yang kemudian mengakibatkan
bentuk-bentuk penderitaan, kemiskinan, pemarjinalan, pada orang-orang lemah.[2]Dalam
hal ini menyangkut pembahasan penulis tentang Feminis Liberal yaitu tentang
perempuan tentang sosial dalam agama Kristen.
Apa yang disebut sebagai Feminisme Liberal ialah
terdapat pandangan untuk menempatkan perempuan yang memiliki kebebasan secara
penuh dan individual. Aliran ini menyatakan bahwa kebebasan dan kesamaan
berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik.Setiap
manusia -demikian menurut mereka- punya kapasitas untuk berpikir dan bertindak
secara rasional, begitu pula pada perempuan.Akar ketertindasan dan
keterbelakangan pada perempuan ialah karena disebabkan oleh kesalahan perempuan
itu sendiri.Perempuan harus mempersiapkan diri agar mereka bisa bersaing di
dunia dalam kerangka persaingan bebas dan punya kedudukan setara dengan lelaki.
Feminis Liberal memiliki pandangan mengenai negara
sebagai penguasa yang tidak memihak antara kepentingan kelompok yang berbeda
yang berasal dari teori pluralisme negara.Mereka menyadari bahwa negara itu
didominasi oleh kaum Pria, yang terlefleksikan menjadi kepentingan yang
bersifat maskulin, tetapi mereka juga menganggap bahwa negara dapat didominasi
kuat oleh kepentingan dan pengaruh kaum pria tadi.Singkatnya, negara adalah
cerminan dari kelompok kepentingan yang memang memiliki kendali atas negara
tersebut.Untuk kebanyakan kaum Liberal Feminis, perempuan cenderung berada di
dalam negara hanya sebatas warga negara bukannya sebagai pembuat
kebijakan.Sehingga dalam hal ini ada ketidaksetaraan perempuan dalam politik
atau bernegara.[3]
Sementara para feminis liberal telah menghasilkan kontribusi
bagi kemajuan perempuan dalam beberapa abad yang lewat, terdapat kritik yang
menuduh bahwa mereka tidaklah berhasil menemukan akar penyebab ketidaksetaraan
gender dan tidak menyadari penindasan sistematis alamiah terhadap perempuan
dalam masyarakat dengan memusatkan perhatian pada ketimpangan-ketimpangan
parsial yang diderita perempuan seperti seksisme, diskriminasi, ketidaksetaraan
upah, feminisme liberal hanya melukiskan sebagai potret ketidaksetaraan gender.[4]
Pandangan yang merendahkan wanita bukan hanya ada di
luar kekristenan. Di dalam gereja sendiri, tragisnya, sering kali wanita
dipandang sebagai harta milik, objek, polusi yang membahayakan, dan yang paling
keras adalah wanita dinilai tidak mampu menjadi gambar Allah sehingga mereka
dilarang untuk menjadi pemimpin, pengkhotbah, dan pengajar dalam ibadah maupun
pelayan di gereja.[5]
Pokok masalah yang serupa dapat dibuat dengan
memandang hubungan antara pria dan perempuan.Meskipun banyak bagian dalam Kitab
Suci menyatakan atau mengimplikasikan superioritas laki-laki atas perempuan,
bagian-bagian lainnya mengimplikasikan kesederajatan.Dalam hal ini, banyak yang
berpendapat secara teologi fundamental. Bagian-bagian yang sering dikutip yang
mencemarkan perempuan mencakup penciptaan Hawa dari rusuk Adam (Kej.2:21-23)
dan ukuran-ukuran yang tidak sama bagi laki-laki dan perempuan dalam Hukum
Kekudusan dalam Kitab Imamat, yang menetapkan bahwa ketika seorang anak
laki-laki dilahirkan, sang ibu najis selama tujuh hari, tetapi setelah
kelahiran lahir, ia najis selama empa belas hari (Imamat 12).[6]
Dari permasalahan ini memang seorang perempuan
sangatlah rendah dari pada seorang laki-laki. Sudah tidak adanya kesetaraan
gender antara perempuan dan laki-laki pada surat-surat dalam Alkitab tersebut.
Adapun di dalam surat-suratnya Paulus.
Paulus dalam surat-suratnya pun seolah-olah mengonfirmasi
status dan peran wanita dalam gereja, misalnya di 1 Korintus 14:34-35 dan 1
Timotius 2:12-16. Pada kedua bagian tersebut, Paulus melarang wanita berbicara
dan mengajar dalam pertemuan-pertemuan jemaat. Bahkan, secara tegas, ia menulis
bahwa Hawa-lah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa. Sikap Paulus tersebut
sangat memengaruhi cara gereja memperlakukan wanita. Selain oleh ayat-ayat
tersebut, cara bapak-bapak gereja memperlakukan wanita juga banyak dipengaruhi
oleh ajaran Yunani dan Talmud. Menurut William Barclay, pandangan orang Yahudi
yang merendahkan wanita tampak dalam doa pagi pria Yahudi yang terdapat dalam
Talmud. Di dalam doanya setiap pagi, seorang Yahudi bersyukur karena Tuhan
tidak menciptakannya sebagai seorang kafir, budak, atau wanita. Tertullian,
salah seorang bapak gereja, berkata, "You (wanita) are the devil's
gateway; you are the unsealer of that (forbidden) tree; you are the first
deserter of the divine law." ("Anda (wanita) adalah pintu setan;
Andalah pendobrak pohon terlarang, Andalah pembelot pertama dari hukum ilahi .")Tidak
mengherankan jika pada zaman bapak gereja, kaum wanita hampir-hampir tidak
memiliki bagian di dalam gereja.Wanita pada masa itu dianggap rendah dan berada
di bawah dominasi pria.Keadaan ini terus berlanjut selama berabad-abad tanpa
ada perubahan.
Pada abad pertengahan, kaum wanita mulai menyadari
bahwa mereka dimarginalkan dalam urusan gereja dan masyarakat, kesempatan yang
mereka miliki sangat terbatas dan tempat yang tersedia bagi mereka hanyalah
dalam rumah tangga. Kesadaran akan keadaan ini mulai membawa sedikit angin
perubahan. Sejumlah wanita tampil sebagai penulis-penulis spiritual dan mistik
pada masa ini.Beberapa karya tulis mereka menunjukkan adanya pengertian yang
mendalam tentang isu-isu filsafat.Hanya, karya tulis tersebut tidak dalam
bentuk seperti tulisan para teolog gereja, tetapi lebih bersifat kontemplatif
yang memperlihatkan pendekatan mereka terhadap masalah-masalah kehidupan, di
mana kunci jawabannya mereka cari di dalam hal-hal spiritual.
Keadaan kaum wanita secara perlahan-lahan mengalami
sedikit perubahan pada zaman Pencerahan.Semangat abad Pencerahan memberi dampak
besar bagi bangkitnya para wanita, terutama di Eropa.Beberapa wanita tampil ke
permukaan dan melahirkan karya tulis ilmiah tentang wanita.Gagasan kesetaraan
wanita dengan pria dituangkan dalam tulisan-tulisan mereka dalam bentuk esai,
disertasi, dan sebagainya.Pada abad berikutnya, muncul beberapa wanita
terkemuka yang memberikan kontribusi signifikan dalam bidang sains dan filsafat,
sebagian lainnya memainkan peran penting di bidang seni, pendidikan, dan
politik.
Gerakan ini makin terasa pada abad ke-20, khususnya
di Barat.Di Amerika Serikat yang menjadi katalisator[7]
gerakan wanita modern adalah karya monumental Betty Friedan, The Feminine
Mystique (1963), yang memberikan pengaruh yang sangat kuat bagi masyarakat di
negara tersebut.Pengaruhnya dapat disejajarkan dengan karya Charles Darwin, The
Origin of the Species.Sejak saat itu, gerakan ini seolah tak terbendung
lagi.Kini, gerakan feminisme dapat kita jumpai di belahan bumi mana pun
sehingga tidak heran jika kita mengenal adanya "black feminist
theology" di Afrika, feminis Islam di Indonesia, feminis Yahudi, dan sebagainya.
Dari
paparan di atas tampak bahwa teologi feminisme lahir sebagai reaksi protes
terhadap penindasan atas kaum wanita yang berlangsung di dalam dan luar gereja
selama berabad-abad. Teolog-teolog feminis sendiri yakin bahwa pendorong
gerakan mereka berakar dari pengajaran PB tentang bagaimana seharusnya orang
Kristen berelasi satu dengan yang lain. Model relasi orang Kristen, khususnya
pria dan wanita tidak bersifat hierarki, melainkan kesederajatan yang sempurna
dan tidak boleh ada lagi peran dalam masyarakat, gereja ataupun di rumah yang
berdasar pada gender.[8]
Tanggapan Alkitab
Berbicara tentang peran perempuan di dalam gereja, ada 3 bagian
Alkitab yang selalu menjadi bahan perdebatan di antara orang Kristen, yaitu :
I Korintus 11:5( Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau
bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama
dengan perempuan yang dicukur rambutnya)Menurut
adat masyarakat sewaktu Paulus menulis suratini, perempuan-perempuan sopan
harus harus bertudung sewaktu mereka berada di tempat umum. Ayat ini ditujukan
kepada perempuan-perempuan yang memimpin doa atau mengajar dalam kebaktian
gereja.Hal ini menunjukkan bahwa Paulus tidak melarang perempuan-perempuan
untuk mengajar dan berkhotbah di dalam gereja, asal mereka berdandan dan
bertindak dengan sopan, yang dapat diterima oleh adat.
I Korintus 14:34( Sama seperti dalam semua jemaat orang-orang kudus,
perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan jemaat. Sebab
mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara.Mereka harus menundukkan diri,
seperti yang dikatakan juga oleh Taurat)Perkataan
“tidak diperbolehkan untuk berbicara” adalah menanyakan sesuatu sewaktu
kebaktian berlangsung. Kalau ditengah-tengah kebaktian mereka dengan spontan
mengacungkan tangan untuk bertanya, hal ini akan mengganggu suasana kebaktian.
I Timotius 2:12( Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga
tidak mengizinkan memerintah laki-laki, hendaklah ia berdiam diri)Ayat ini ditulis untuk Timotius yang sering menghadapi seorang
perempuan yang “bossy” dalam gereja, sehingga Paulus tidak mengizinkan
perempuan tersebut menguasai Timotius. Ini tidak berarti bahwa perempuan tidak
boleh mengajar dan tidak boleh menjadi pemimpin.[9]
Tanggapan Gereja
1. Sikap mendukung gerakan feminisme
Sikap
ini didasari atas pertimbangan bahwa gereja menghargai perempuan dan laki-laki
pada porsi yang sama sebagaimana Tuhan menghargai mereka. Perbedaan yang ada
pada laki-laki dan perempuan terletak pada sistem otakyang berkaitan dengan
kerja hormon. Namun dalam hal kesempatan bekerja dan berkarir serta pelayanan
mendapatkan kesempatan yang sama. Demikian juga seorang perempuan berhak
menjadi pemimpin organisasi, termasuk pemimpin gereja.
Dukungan ini terwujud dengan
terbentuknya organisasi diantaranya : Men, Women, and God (di Inggris) dan
Christians for Biblical Equality (di Amerika).
2. Sikap menolak gerakan feminisme
Sikap
gereja yang menolak feminisme berdasarkan studi kritis Alkitabiah terhadap
metode hermeneutika mereka, sehingga membangun idealisme bernuansa feminis yang
radikal. Yaitu adanya upaya mengganti nama Allah dan membangun sistem
masyarakat bercorak matriakal[10].
Organisasi
yang menolak gerakan feminis adalah Council on Biblical Manhood and Womanhood.[11]
3. Sikap menerima gerakan feminisme namun
tetap tunduk kepada otoritas Alkitab
Gereja
menerima gerakan feminisme selama tidak bertentangan dengan kebenaran-kebenaran
Alkitab. Dalam hal ini, gereja menerima bahwa perempuan sudah sepatutnya
mendapat hak yang sama dengan laki-laki. Namun, bukan berarti mereka dapat
seenaknya bertindak menghancurkan kebenaran Firman Tuhan.[12]
Kritik
yang sering dilontarkan dari kalangan feminis terhadap ajaran-ajaran Kristen
cukup beragam. Berikut beberapa kritik kaum feminis terhadap doktrin-doktrin
keagamaan yang dianggap telah merugikan kaum perempuan, yang telah disusun
Randy L. Maddox, di antaranya adalah:
1.
Sifat dasar teologi
Para feminis Kristen seringkali mengkritisi model-model refleksi
teologis yang bersifat abstrak, teoretis, dan deduktif.Mereka menekankan pada
ekspresi teologis yang bersifat praksis dan konstruktif.Seluruh formulasi
teologis itu failable dan terbuka untuk reformulasi yang kritis.
2. Sumber teologi
Menurut mereka pengalaman, alasan
dan tradisi memainkan peran dalam pemahaman seseorang terhadap kitab Injil.Dan
mereka berusaha mengangkat kembali tradisi dan pengalaman perempuan yang selama
ini terabaikan.
3. Doktrin tentang Trinitas
Doktrin lama tentang Tuhan sebagai Supreme
being berdampak kepada pemahaman yang hirarkis, individualistik, dan elitis
terkait tatanan sosial manusia. Sebaliknya kaum feminis berargumen bahwa
pemahaman tentang Tuhan yang sesungguhnya dan pemahaman relaitas yang saling
berkolerasi adalah lebih Biblical.
4. Doktrin tentang Tuhan Bapak Sebagai creator
Feminis seringkali dituduh ingin
mengganti Tuhan Bapak menjadi Tuhan Ibu, hal ini disangkal oleh mereka karena
mereka tertarik terhadap pentingnya penegasan kembali terhadap doktrin teologi
klasik yang menjelaskan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, tanpa adanya
peninggian suatu jenis kelamin tertentu.
5. Doktrin tentang Yesus Kristus
Yesus Sebagai reinterpretasi dari
Tuhan pencipta yang abstrak dibandingkan direinterpretasikan sebagai
manusia.Padahal menurut feminis Yesus harus dipahami sebagai reinterpretasi
dari keduanya.Sebagian feminis seringkali bertanya mengapa kehadiran mereka
sringkali diwakili oleh laki-laki, sebagian dari mereka menjawab kelaki-lakian
Yesus adalah fakta Historis bukan kepantingan Teologis.
6.Doktrin
tentang Holy Spirit
Dalam tradisi Kristen Holy Spirit
seringkali diasosiasikan sebagai perempuan, baik secara analogis maupun
literal. Jika penggunaan term God bernuansa maskulin maka feminis berupaya
untuk menfeminisasikan Holy Spirit. Hal ini dikarenakan Holy Spirit memiliki
sifat-sifat feminine.
7. Doktrin tentang penciptaan
Tujuan feminis merefleksikan
pemahaman tentang doktrin penciptaan untuk mengatasi pemikiran maskulinitas
yang dualistic dan hirarkis dlam tradisi Kristen.Menurut mereka ini tidak
sesuai dengan doktrin agama.
8. Doktrin tentang Kemanusiaan
Feminis mengkritik dualism hirarkis
dalam kemanusiaan dalam kehidupan laki-laki dan perempuan. Contohnya peran dan
tanggung jawab laki-laki adalah di ranah public dan perempuan di ranah
domestic, cara pandang seperti ini dilegitimasi oleh agama. maka dari itu
mereka beragumen bahwa hal tersebut mesti diminimalisir atau dihapus dalam
memaknai kitab suci.
9.Doktrin
tentang Dosa
Menurut kalangan feminis bahwa dosa
adalah bentuk-bentuk kehancuran hubungan sosial baik laki-laki maupun
perempuan, kaya miskin, budak dan orang merdeka.
10. Doktrin tentang Penebusan Dosa atau
Keselamatan
Menurut kalangan feminis keselamatan
sangat berkaitan dengan perbincangan individual.Struktur sosial yang
terdistorsi harus diselamatkan, karena pada dasarnya mereka melihat keselamatan
sebagai pembenaran sekaligus pensucian.
11. Doktrin tentang Gereja dan Ministery
Kalangan feminis menuntut agar
dihilangkanya model-model hirarki yang tidak berdasarkan kitab suci dan tidak
manusiawi.Mereka juga menolak perbedaan antara orang awam dan pendeta yang
menyebabkan ketergantungan orang awam terhadap pendeta.
12. Doktrin tentang Eskatologi
Feminis Kristen memandang bahwa
eskatologi dalam ajaran Kristen seharusnya memasukkan transformasi dari seluruh
tatanan sosial yang berbasis pada kesetaraan dan keadilan gender.[13]
Kisah dalam Kitab Kejadian
menceritakan asal-usul wanita:
“Ke dalam suasana seperti itu teks datang lagi seperti napas udara segar.
Seluruh dunia binatang sengaja disusun sebagai laporan, dan Adam meneliti
seluruh prosesi yang fantastis yang semata-mata mau menekankan bahwa diantara
mereka tidak ditemukan seseorang yang dapat menjadi temannya.Apa yang sedang di
cari ialah yang martabatnya yang cocok, pantas, serasi dengannya. Memang demikianlah akhirnya,
Allah menciptakan penolong yang “pantas” baginya, seseorang yang mempunyai
kesamaan atau kesepadanan derajat dengannya yang dapat menjadi partner dan
temannya.
”[14]
Para feminis menjadi semakin sadar akan
beragam sumber kenikmatan dalam kehidupan perempuan juga berbagai sumber rasa
sakit dan kehilangan, kecenderungan mereka untuk menolak kenikmatan sebagai
“kesadaran palsu” semakin berkurang. Analisis feminis terhadap penyebaran
wacana juga ditujukan pada isu-isu semisal aturan hukum atas kehidupan
perempuan dan pelanggengan hegemoni heteroseksual.[15]
Ketika berbicara tentang asal usul dan tujuan umat manusia, Alkitab
berbicara tentang kesederajatan laki-laki dan perempuan. Pada penciptaan baik
laki-laki maupun perempuan dibuat dalam keserupaan dengan Allah. “Allah
menciptakan manusia menurut gambar-Nya sendiri . . . laki-laki dan perempuan
diciptakan-Nya mereka” (Kej. 1: 27; lihat juga 5: 1-2). Ide bahwa di mata
Allah satu manusia sama harganya dengan manusia yang lain dalam praktik dan
ajaran Yesus sedemikian menonjol sehingga kita dapat mengatakan bahwa hal itu
merefleksikan pikiran Kristus. Di mana-mana ajaran etis-Nya mengimplikasikan
kesederajatan dalam arti bahwa setiap pribadi dikasihi oleh Allah. Lebih lanjut
lagi, kitab-kitab injil dipenuhi dengan cerita tentang perjumpaan yang penuh
penghargaan antara Yesus dengan orang-orang dari semua lapisan masyarakat.
Sebagai contoh, Ia menyambut baik bukan hanya orang-orang yang dikucilkan ,
pemungut cukai, dan pendosa, penderita lepra, dan orang yang mengalami gangguan
mental, orang miskin dan ppa, melainkan juga mereka yang mempunyai kedudukan
sosial yang tinggi, ahli Taurat dan orang muda yang kaya. Sangat menonjol pula
dalam suatu kebudayaan patriarkal bahwa Ia memasukan perempuan, sama halnya
dengan pria, ke dalam lingkaran para sahabat-Nya yang paling akrab. Maria,
Marta, Salome, dan Maria Magdalenatampaknya sungguh dekat kepada-Nya, seperti
Petrus dan Yohanes.[16]
Prinsip penghargaan yang universal dan
sederajat –yaitu tuntutan untuk memandang semua orang sebagai bernilai sama-
juga secara mendalam tertanam dalam ajaran Yesus tentang mengasihi sesama
manusia. Hubungan ini dinyatakan secara kuat sekali oleh Kierkegaard,
“menghormati setiap orang, mutlak setiap orang, itulah kebenaran, dan inilah
yang dimaksud dengan takut akan Allah dan mengasihi sesama ‘manusia’ dan ‘sesama manusia’ adalah ekspresi
yang mutlak benar untuk kesederajatan manusia. Jika setiap orang berada dalam
kebenaran untuk mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri, kesederajatan
manusia yang sepenuhnya akan tercapai. ”[17]
Tantangan
ke depan yang akan dihadapi organisasi perempuan dan gerekan perempuan di
Indonesia ke depan diyakini akan semakin kompleks. Isu politik dan dampak dari
globalisasi adalah masalah penting yang semakin hari semakin mendesak untuk
ditangani. Dari sisi pengorganisasian, tuntutan profesionalisme organisasi,
masalah lima tahun setelah reformasi, ada kemajuan dan kekalahan dari upaya
demokrasi di Indonesia yang sampai sekarang masih berjalan tertatih tatih.
Selain itu, lemahnya kepemimpinan bangsa, munculnya benih-benih
neo-otoritananisme baru adalah ancaman terhadap proses demokratisasi yang dalam
perjalanannya jika tidak diawasi akan dapat kembali kea rah otoritasrianisme. Organisasi
perempuan dan gerakan perempuan di Indonesia dalam perjalanan ke depan, akan
sangat dipengaruhi oleh berbagai persoalan yang telah dikemukakandi atas, yaitu
isu-isu politik serta dampak dari globalisasi terhadap perempuan dan kelompok
marjinal lainnya.[18]
Apakah
realitas dan persoalan yang dihadapi oleh perempuan Gereja berbeda dengan
perempuan lain?
1. sama sekali tidak berbeda
2. perempuan dalam Gereja, dan
perempuan sebagai gereja, juga mengalami ketidakadilan, diskriminasi,
subordinasi, marginalisasi dan kekerasan dalam bentuk (fisik, psikhis, seksual
dan kekerasan ekonomi) baik dalam rumah tangga (KDRT) maupun dalam komunitas
Gereja.
3. Mulai muncul kesadaran kritis akan
ketimpangan perlakuan terhadap perempuan (dan anak) pada Gereja-gereja di
Indonesia (khususnya anggota PGI).[19]
Pada masa itu sebuah keluhan suara
kekristenan diwakili oleh agama-agama yang lain. Sangat di prihatinkan bahwa
kaum feminis berawal pada suatu kesadaran akan penindasan. Selama berabad-abad
seorang perempuan diperlakukan dengan diskriminatif.Mereka dilarang untuk
memiliki kesempatan yang sederajat dalam kehidupan ekonomi, politik bahkan
rumah tangga.Hanya pada abad inilah perempuan diberikan hak untuk memilih, dan
baru akhir- akhir ini terdapat jumlah yang segnifikan perempuan yang boleh
untuk berkerja untuk tingkat sebagai seorang manajer.Hanya sebagian dikit
seorang perempuan yang telah meraih tingkat tanggung jawab tertinggi dalam
sebuah dunia bisnis dan dunia pemerintahan.
Gerakan kebebasan berpolitik ini di
mulai sejak perlawanan terhadap kekuasaan gereja dimulai dengan terjadinya
sebuah revolusi France pada tahun 1789 dan berlangsung hingga tahun 1792. Pada
tahun ini awal dimulanya seorang perempuan mendapat hak untuk bercerai kepada suaminya. Renaissance di Barat
memberikan sebuah gerakan pembaharuan yang berpengaruh kuat terhadap gerakan
feminisme dan kesamaan gender.
Pada tahun 1820-an menjadi titik sejarah
bangkitnya perempuan Kristen untuk mencapai persamaan di bidang pendidikan.[20]
Berkembang pada tahun 1830 sampai 1840-an perempuan di Amerika menyadari bahwa
perlunya pemahan yang berbeda terhadap doktrin-doktrin agama yang ada dalam
kitab suci. Pada tahun 1837 seorang perempuan bernama Sarah Grimke, ia mendesak
perlunya ilmu pengetahuan yang baru yang dikenal dengan feminis.
Pada abad ke 19 dan awal abad ke 20
sebuah gerekan feminisme ini muncul di Amerika.Gerakan ini muncul akibat dalam
suatu kasus yang menunjukan bahwa perempuan mendapat hak untuk memilih (the
right to vote). Pada akhirnya gerakan ini diberikan untuk memilih, pada tahun
1920 gerakan ini feminisme ini tenggelam sampai pada tahun 1950, ada yang
berpendapat bahwa kedudukan ideal perempuan yang ideal adalah menjadi ibu rumah
tangga, walaupun pada saat itu sudah banyak perempuan yang bekerja di luar
rumah. Pada tahun 1960 barulah gerakan ini muncul dengan satu kesadaran baru
bahwa terutama bagi perempuan peran tradisionalnya ternyata menempatkan
perempuan berada pada posisi yang tidak menguntungkan, yakni yang disebut
sebagai sub-ordinasi perempuan. Pada tahun inilah banyak teori-teori feminisme
bermunculan seperti feminisme liberal, feminisme radikal, feminisme marx,
feminisme sosial, berbeda beda teori tetapi mempunyai tujuan yang sama yaitu
bagaimana bisa memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Pada tahun 1980
teori-teori ini mendapat kritikan oleh mazhab ekofeminisme yang mana
membicarakan tentang kualitas
feminisme dan cenderung menerima
perbedaan laki-laki dan perempuan. Mereka mulai percaya bahwa perbedaan
tersebut bukan hanya faktor budaya, namun juga merupakan sesuatu yang
intrinsik. Pada tahun 1990-an telah memunculkan pembalikan arah perkembangan
pemikiran feminisme. Para pemikir feminisme ini melakukan kritik terhadap teori
mereka lebih-lebih terhadap feminisme radikal, hampir tidak menyentuh
permasalahan kesejahteraan anak-anak dan kelestarian lingkungan hidup.
Pada abad ke 20 agama Kristen ini sangat
terkenal dengan agama yang selalu mempunyai keterlibatan yang sangat mendalam
tentang isu-isu yang berhubungan dengan agama dan wanita. Yakni seorang
perempuan dari dunia kristen yang mendesak bahwa perempuan dari dunia kristen
yang memulai untuk mendesak bahwa perempuan harus mempunyai hak yang sama
dengan laki-laki.[21]
Pada saat zaman gereja kristen dalam ilmu agama tema- tema yang berhubungan
dengan perempuan wanita telah mulai diterima sebagai sebuah perhatian yang
besar. Dalam suatu pertimbangan lain, tentang isu-isu yang tidak melibatkan
pendapat perempuan, mendapatkan sebuah kritik untuk meninjau hal ini dari
pendapat laki-laki. Hal ini menunjukan bahwa betapa pentingnya untuk mempertimbangkan pendapat perempuan.
Pada umumnya para kaum feminis
mendapatkan kesimpulan bahwa dominasi pria secara sangat tertanam dalam
kebudayan kita, tetapi mereka bergerak lebih jauh lagi. Superiorotas maskulin
menemukan ekspresinya dalam aturan-aturan hukum, ataupun laki-laki dan perempuan mempunyai status yang
terpisah dan tidak sederajat dalam jabatan dan kehidupan publik. Semua
permasalahan ini dimaksudkan untuk mempertahankan ketidaksetaraan derajat
seksual sebagai suatu masalah hak- hak
sipil.[22]Semua
manusia di mata Allah satu manusia sama harganya dengan manusia yang lain.
Dalam ajaran sang Yesus sedemikian menonjol bahwa hal itu merefleksikan pikiran
kristus. Dengan demikian semua manusia di mata Yesus Kristus memiliki derajat yang sama dalam artian bahwa
setiap pribadi dikasihi oleh Allah. Di
dalam kitab- kitab injil bahwa di ceritakan tentang perjumpaan yang penghargaan
antara Yesus dengan orang-orang dari semua lapisan Masyarakat. Sebagai contoh,
ia menyambut baik bukan hanya orang-orang yang dikucilkan, pemungut cukai, dan
pendosa, penderita lepra dan orang yang mengalami gangguan mental, orang miskin
dan papa, melainkan mereka yang mempunyai kedudukan sosial yang tinggi, ahli
Taurat dan orang muda yang kaya.[23]
Yesus pun memasukan perempuan, sama
halnnya dengan seorang laki-laki dalam lingkaran persahabatannya yang paling
akrab. Perempuan dalam pandangan Yesus sama halnya dengan laki-laki berinteraksi
dengan Yesus untuk saling menghargai, mendukung, menghibur, menegur, dan mereka
sendiri dimampukan untuk mengucap rasa syukur, menghibur, dan memiliki sifat
berani.
Pada intinya dalam ajaran Yesus kristus
bahwa semua manusia itu sama baik laki-laki maupun perempuan maka dari itu
kesetaraangender dalam agama Kristen harus ditegakan bahwa bukan hanya
laki-laki yang bisa berpendapat perempuan pun punya hak dalam berpendapat dan
diberi keadilan dalam kesetaraan nya.
DAFTAR PUSTAKA
Hakeem,
Hosein.Membela Perempuan Menakar
Feminisme dengan Nalar Agama.Terjemahan
Jemala Gembala. Jakarta: Al-Huda, cet.1., 2005
Abdullah, Kurniawan,
dkk. Memecah
Kebisuan: Agama Mendengar Suara Perempuan Korban Kekerasan Demi Keadilan
(Respon Katolik).Jakarta:
Komnas Perempuan
Rosyidah, Ida dan
Hermawati, Relasi Gender dalam Agama-Agama. Cet.I, UIN Jakarta Press,
2016
Linwood
Urban.Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen.
Jakarta: Gunung Mulia, 2009
Ling
Ing Sian, Sebuah Tinjauan Terhadap
Teologi Feminis Kristen, ”Jurnal Veritas Volume 4/2 Oktober 2003: 7
Aris
Dhiya’ul Fauzan.Perbandingan Agama 3.
Jakarta: UIN
Jurnal
Teologi dan Pelayanan Antusias
Prespektifgender.blogspot.co.id/2015/12/perempuan-agama-dan-transformasi-sosial.html. Diakses pada tanggal 13 September 2016, pada
pukul 02:50
http://salitsimalem.blogspot.co.id/2016/03/teologi-sosial-teologi-pembebasan.html,
diakses pada tanggal 9 November 2016 pada pukul 20:32
https://merpati892.wordpress.com/2012/05/30/teologi-feminisme/
diakses pada tanggal 13 September 2016 pada pukul 13.08
www.wikipedia.org
[1]Kurniawan
abdullah, dkk.
Memecah Kebisuan: Agama Mendengar Suara Perempuan Korban Kekerasan Demi
Keadilan (Respon Katolik).(Jakarta:
Komnas Perempuan) h. 44.
[2]http://salitsimalem.blogspot.co.id/2016/03/teologi-sosial-teologi-pembebasan.html,
diakses pada tanggal 9 November 2016 pada pukul 20:32
[3]www.wikipedia.org
[4]Hosein Hakeem. Membela Perempuan Menakar Feminisme dengan
Nalar Agama.Terjemahan Jemala
Gembala. (Jakarta: Al-Huda, cet.1., 2005).h. 30
[5]
https://merpati892.wordpress.com/2012/05/30/teologi-feminisme/ diakses pada
tanggal 13 September 2016 pada pukul 13.08
[6]Linwood Urban.Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen.
(Jakarta: Gunung Mulia, 2009). h. 489
[7] Katalisator dalam
KBBI adalah sesuatu yang menyebabkan terjadinya perubahan dan menimbulkan
kejadian baru
[8]Ling
Ing Sian, Sebuah Tinjauan Terhadap
Teologi Feminis Kristen, ”Jurnal Veritas Volume 4/2 (Oktober 2003): 7
[9]https://merpati892.wordpress.com/2012/05/30/teologi-feminisme/
diakses pada tanggal 13 September 2016 pada pukul 13.08
[10] Matriarkal berasal
dari kata matriarkat yang artinya dalam kamus KBBI adalah sistem pengelompokan
sosial dengan seorang ibu menjadi kepala dan penguasa seluruh keluarga.
[11]organisasi yang mendukung kepemimpinan laki-laki dalam
keluarga dan gereja.
[12]Jurnal Teologi dan
Pelayanan Antusias, hlm 79-80
[13]Ida Rosyidah dan
Hermawati, Relasi Gender dalam Agama-Agama. (Cet.I, UIN Jakarta Press,
2016). h. 101
[14]
http://dianapuspasarii.blogspot.co.id/2013/11/perempuan-agama-dan-transformasi-sosial.html
[15]Stevi
Jackson dan Jackie Jones, Pengantar
Teori-teori Feminis Kontemporer. (Yogyakarta: Jalasutra, 2009), hal. 11
[16]Linwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen.
(Jakarta: Gunung Mulia, 2009), hal. 490
[20]Aris Dhiya’ul Fauzan.Perbandingan Agama 3. (Jakarta: UIN).
Hal. 100
[21]
Prespektifgender.blogspot.co.id/2015/12/perempuan-agama-dan-transformasi-sosial.html. Diakses pada tanggal 13 September 2016, pada
pukul 02:50
[22] Linwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen. (Jakarta: Gunung Mulia, 2009),
h. 490
[23]Linwood Urban.Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen.
(Jakarta: Gunung Mulia, 2009). h. 490
Tidak ada komentar:
Posting Komentar