Merry
Riana adalah tokoh wanita muda yang menginspirasi lewat bukunya mimpi sejuta
dollar. Bagaimana tidak, dalam usianya yang masih sangat muda yaitu 26 tahun,
Merry Riana telah mampu mewujudkan impiannya meraih satu juta dollar.
Sebagai
seorang pengusaha yang kini juga menjadi motivator, Merry memang layak
dijadikan sosok inspiratif bagi kaum muda dan terutama kaum wanita di
Indonesia. Maka dari itu kisah hidup Merry yang inspiratif ini menggugah Hestu
Saputra untuk membuat film dan mengangkatnya ke layar lebar.
Film
yang kemudian resmi dirilis tanggal 24 Desember 2014 kamarin dengan judul
“Merry Riana” ini telah sukses disaksikan lebih dari 700 juta penonton. Hal ini
tentu memberi makna bahwa film ini memiliki daya tarik tersendiri, terutama
tentang nilai dan pembelajaran yang positif bagi siapapun.
Lalu
nilai dan pelajaran berharga apakah yang terdapat pada film yang bermula dari
kerusuhan Mei 1998 yang kemudian mengharuskan Merry mengungsi ke Singapura ini?
Berikut ulasannya.
1.
Pribadi Yang Pantang Menyerah
2.
Hidup Harus Berhitung
3.
Investasi Tak Boleh Terburu-Buru
4.
Hidup Harus Penuh Kejujuran
5.
Uang Bukanlah Segalanya
Pengungkapan
kasus kekerasan seksual ini amat rumit, karena terkait dengan tradisi dan
budaya atau pandangan keagamaan masyarakat yang mentabukan bicara seks di depan
orang lain. Lebih dari itu pengungkapannya oleh korban seringkali semakin
menggandakan penderitaan diri perempuan dan keluarganya.
Ada
sejumlah asumsi yang berkembang di public selama ini. Keduanya lebih berdimensi
moralitas untuk tidak dikatakan agama. Asusmsi pertama mengarahkan kesalahan
kepada perempuan. Dengan kata lain kekerasan seksual bersumber dari perempuan
sendiri. Mereka disalahkan, karena memamerkan bagian-bagian tubuhnya yang
terlarang (aurat) di depan public. Mereka tidak menutupinya atau tidak
mengenakan jilbab/hijab. Perempuanlah yang menciptakan “fitnah” (menggoda dan
memicu hasrat seksual) laki-laki. Anggapan-anggapan ini sungguh sangat sulit
untuk difahami oleh logika cerdas, bersih dan kritis.
Ketimpangan
relasi kuasa berbasis gender tersebut diperparah ketika satu pihak (pelaku)
memiliki kendali lebih terhadap korban, baik ekonomi, pengetahuan, status
social dan lain-lainnya. Kendali muncul dalam bentuk hubungan patron-klien,
seperti antara orangtua-anak, majikan-buruh, guru-murid, tokoh masyarakat atau
tokoh agama-warga, pengasuh-santri dan kelompok bersenjata/aparat-penduduk
sipil, bahkan orang pusat-orang daerah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar