Kamis, 24 November 2016

Vidio Gender sumber Youtube.com

Merry Riana adalah tokoh wanita muda yang menginspirasi lewat bukunya mimpi sejuta dollar. Bagaimana tidak, dalam usianya yang masih sangat muda yaitu 26 tahun, Merry Riana telah mampu mewujudkan impiannya meraih satu juta dollar.
Sebagai seorang pengusaha yang kini juga menjadi motivator, Merry memang layak dijadikan sosok inspiratif bagi kaum muda dan terutama kaum wanita di Indonesia. Maka dari itu kisah hidup Merry yang inspiratif ini menggugah Hestu Saputra untuk membuat film dan mengangkatnya ke layar lebar.
Film yang kemudian resmi dirilis tanggal 24 Desember 2014 kamarin dengan judul “Merry Riana” ini telah sukses disaksikan lebih dari 700 juta penonton. Hal ini tentu memberi makna bahwa film ini memiliki daya tarik tersendiri, terutama tentang nilai dan pembelajaran yang positif bagi siapapun.
Lalu nilai dan pelajaran berharga apakah yang terdapat pada film yang bermula dari kerusuhan Mei 1998 yang kemudian mengharuskan Merry mengungsi ke Singapura ini? Berikut ulasannya.
1. Pribadi Yang Pantang Menyerah
2. Hidup Harus Berhitung
3. Investasi Tak Boleh Terburu-Buru
4. Hidup Harus Penuh Kejujuran
5. Uang Bukanlah Segalanya
Pengungkapan kasus kekerasan seksual ini amat rumit, karena terkait dengan tradisi dan budaya atau pandangan keagamaan masyarakat yang mentabukan bicara seks di depan orang lain. Lebih dari itu pengungkapannya oleh korban seringkali semakin menggandakan penderitaan diri perempuan dan keluarganya.
Ada sejumlah asumsi yang berkembang di public selama ini. Keduanya lebih berdimensi moralitas untuk tidak dikatakan agama. Asusmsi pertama mengarahkan kesalahan kepada perempuan. Dengan kata lain kekerasan seksual bersumber dari perempuan sendiri. Mereka disalahkan, karena memamerkan bagian-bagian tubuhnya yang terlarang (aurat) di depan public. Mereka tidak menutupinya atau tidak mengenakan jilbab/hijab. Perempuanlah yang menciptakan “fitnah” (menggoda dan memicu hasrat seksual) laki-laki. Anggapan-anggapan ini sungguh sangat sulit untuk difahami oleh logika cerdas, bersih dan kritis.
Ketimpangan relasi kuasa berbasis gender tersebut diperparah ketika satu pihak (pelaku) memiliki kendali lebih terhadap korban, baik ekonomi, pengetahuan, status social dan lain-lainnya. Kendali muncul dalam bentuk hubungan patron-klien, seperti antara orangtua-anak, majikan-buruh, guru-murid, tokoh masyarakat atau tokoh agama-warga, pengasuh-santri dan kelompok bersenjata/aparat-penduduk sipil, bahkan orang pusat-orang daerah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar