Kamis, 08 Desember 2016

KEMULIAN WANITA DALAM KITAB AGAMA SIKH

Umat Sikh memiliki sebuah kitab suci yaitu Sri Guru Granth Sahib (SGGS) atau cukup disebut Granth Sahib. Kitab suci ini merupakan pedoman hidup umat Sikh yang merupakan rangkuman dari petuah “Sepuluh Guru Nanak Sikh”. Guru Nanak Dev adalah guru pertama agama Sikh sekaligus pendiri agama ini.
Kitab suci ini ditulis dalam bahasa Punjabi. Nah, teks suci inilah yang menjadi salah satu aspek penting dalam agama Sikh yang telah memosisikan perempuan dalam kedudukan setara dengan laki-laki.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:
“Dari perempuan kita dilahirkan, dalam perempuan kita dikandung; Dengan perempuan kita terikat, dengannya kita menikah; Perempuan menjadi sahabat kita, melalui perempuan peradaban berlanjut; Ketika perempuan meninggal, dia dirindukan: Melalui perempuan hukum dijaga. Lalu mengapa kita menyebutnya si jahat? Dari padanya orang-orang besar dilahirkan; dari perempuan, perempuan lahir. Dan tanpa perempuan, tak seorangpun ada. Tuhan yang abadi hanya satu, Ya Nanak Yang tidak tergantung perempuan.” (Guru Nanak Dev, Var Asa, pg. 473)

 Membaca ayat diatas dapat disimpulkan bahwa, yang dapat dilihat adalah kedamaian. Alangkah indah petuah yang disampaikan Guru Nanak kepada umatnya. Pada masanya, Guru Nanak telah mengangkat kedudukan perempuan dalam posisi yang sama pentingnya dengan laki-laki. Guru Nanak tentu bermaksud mengajarkan umatnya agar menghormati perempuan.
Ayat lain mengatakan:
“Mereka tidak disebut suami dan istri yang hanya sekedar duduk bersama. Tetapi mereka disebut suami dan istri, yang memiliki satu jiwa dalam dua tubuh”
(Guru Amar Das, Pauri, pg. 788)
Dengan demikian, tidak mengherankan jika perkawinan dalam Sikh diyakini sebagai hubungan yang setara dalam cinta kasih dan rasa saling berbagi antara suami istri.
Prinsip penghormatan terhadap perempuan juga diwujudkan Sikh ketika merespon tradisi-tradisi lokal yang sangat mendiskreditkan perempuan. Misalnya tradisi yang berlaku di India pada masa itu yang mengharuskan seorang istri membakar dirinya manakala suaminya meninggal